Wartawan MBC Dirujuk ke RS Siloam Tangerang
MediaBantenCyber.co.id (MBC), TANGERANG – Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Siloam Kabupaten Tangerang di Jalan Raya Kelapa Dua menjadi sorotan. Seorang wartawan Media Banten Cyber (MBC), Takdir Saputra, mengaku kecewa setelah datang dalam kondisi mengalami sesak napas dan memiliki riwayat penyakit jantung, namun justru diminta mencari rumah sakit lain secara mandiri karena ruang isolasi disebut penuh.
Peristiwa tersebut terjadi pada 23 Agustus 2026. Takdir sebelumnya datang dengan rujukan dari Klinik Jati Elok untuk mendapatkan penanganan di Poli Jantung RS Siloam Kabupaten Tangerang. Namun, kondisi yang dialaminya membuat ia harus mendapatkan pemeriksaan di IGD.
Takdir mengatakan, saat berada di IGD, dirinya menyampaikan kepada dokter bahwa mengalami gangguan pernapasan. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya memiliki riwayat penyakit jantung dan belum sempat melakukan kontrol secara rutin.
“Dokter bertanya apa yang saya rasakan. Saya jawab pernapasan bermasalah dan saya tidak sempat kontrol. Dokter bilang penyakit jantung wajib kontrol terus,” ujar Takdir.
Selanjutnya, pihak rumah sakit melakukan pemeriksaan, termasuk rekam jantung menggunakan peralatan medis yang tersedia. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, dokter menyampaikan bahwa tidak ditemukan masalah pada jantungnya. Namun, dokter menduga terdapat infeksi sehingga Takdir disebut perlu mendapatkan perawatan di ruang isolasi.
Persoalan muncul ketika Takdir diberitahu bahwa ruang isolasi di rumah sakit tersebut penuh.
“Katanya harus diisolasi, tapi ruangannya penuh. Dokter menyarankan saya mencari rumah sakit lain yang ada ruangan isolasi dan kamar perawatan,” ungkapnya.
Takdir mempertanyakan mekanisme pelayanan tersebut. Menurutnya, sebagai pasien yang datang dalam kondisi masih sakit, dirinya berharap mendapatkan kepastian penanganan, terlebih kedatangannya ke RS Siloam bukan tanpa rujukan.
Ia mengaku semakin kecewa karena setelah dinyatakan membutuhkan isolasi, dirinya tidak mendapatkan rujukan lanjutan untuk rumah sakit lain maupun obat pereda nyeri. Takdir justru diminta pulang dan mencari sendiri rumah sakit yang dianggap mampu menanganinya.
“Dengan penuh harapan datang ke Siloam, tapi malah disuruh pulang begitu saja. Ini bagaimana rumah sakit dalam melayani pasien yang benar-benar membutuhkan pertolongan?” keluhnya.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai bagaimana prosedur rumah sakit ketika fasilitas perawatan yang dibutuhkan pasien sedang penuh. Apakah pasien cukup diminta mencari rumah sakit lain secara mandiri, atau seharusnya ada mekanisme rujukan lanjutan agar pasien tetap memperoleh kepastian pelayanan dan tidak terlantar dalam kondisi sakit?
Terlebih, Takdir datang dengan keluhan sesak napas dan memiliki riwayat penyakit jantung. Dalam situasi seperti itu, kepastian mengenai tindak lanjut medis menjadi hal penting agar pasien tidak dibiarkan menghadapi risiko kesehatan seorang diri.
Persoalan ini juga menyangkut aspek komunikasi pelayanan. Ketika fasilitas yang dibutuhkan tidak tersedia, pasien dan keluarga idealnya memperoleh penjelasan yang terang mengenai kondisi medis, pilihan penanganan, serta langkah selanjutnya yang harus dilakukan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RS Siloam Kabupaten Tangerang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pelayanan tersebut, termasuk mengenai alasan pasien diminta mencari rumah sakit lain, ketersediaan ruang isolasi, serta apakah terdapat prosedur rujukan lanjutan bagi pasien dalam kondisi sebagaimana dialami Takdir.
Kasus ini pun diharapkan menjadi perhatian manajemen rumah sakit dan instansi terkait untuk memastikan setiap pasien yang datang membutuhkan pertolongan mendapatkan pelayanan sesuai prosedur, terlebih ketika pasien berada dalam kondisi sakit dan membutuhkan kepastian penanganan. (Putra/Red)
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.